NAMA
: CORRIE YUIANA LUBIS
NPM
: 12.06.0.029
TUGAS
: MANAJEMEN PENDIDIKAN
PRODI
: PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS
1. Faktor
Penyebab Konflik apa saja ?
Jawabannya
:
·
Konflik terjadi karena :
1.
Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan
pendirian dan perasaan.
Setiap
manusia adalah individu yang unik. Artinya,
setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan
lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang
nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani
hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya,
ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap
warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi
ada pula yang merasa terhibur.
Seseorang
sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang
berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat
memicu konflik.
3.
Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia
memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam
waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan
yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi
untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan
dalam hal pemanfaatan hutan.
Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan
budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan
tidak boleh ditebang. Para petani
menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk
membuat kebun atau ladang.
Bagi
para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna
mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan,
hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas
terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya
sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat
perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial,
dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok
dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang
terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh
menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang
besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
Perubahan
adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu
berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu
terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami
proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab
nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian
secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai
kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang
disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi
hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah
menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung
tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan
istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara
cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di
masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan
karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
5. Perbedaan kepentingan dan pandangan
hidup
Perbedaan seringkali menjadi pemicu
timbulnya persaingan dan pertentangan sosial.Oleh karna itu,dalam pergaulan di
masyarakat kita harus bersikap toleran terhadap orang atau kelompok lain.
Dengan demikian,hubungan baik dengan sesama teman dan saudara akan tetap
terpelihara dan konflik sosial dapat dihindari.
6 . Perbedaan nilai dan norma sosial
Perbedaan nilai dan norma sosial seringkali menjadi penyebab timbulnya konflik sosial.Sebenarnya peristiwa tersebut tidak akan terjadi jika masing-masing pihak saling menghargai perbedaan yang ada.dan sebagai masyarakat yang ber-Bhinneka Tunggal Ika kita perlu bersikap toleran terhadap perbedaan nilai-nilai dan norma-norma sosial.
7 . Perbedaan nilai-nilai kebudayaan
Perbedaan kebudayaan dapat mendorong timbulnya persaingan dan konflk sosial.demikian pula dengan masuknya kebudayaan masyarakat luar yang negatif,seringkali menjadi penyebab timbulnya konflik sosial.
8. Perbedaan status dan peran sosial
Perbedaan tersebut dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial.Conthnya:adanya perbedaan si kaya dan si miskin,buruh dan majikan,dll
Perhatikan bagan peran dan status sosial dalam kaitan dengan interaksi sosial!
6 . Perbedaan nilai dan norma sosial
Perbedaan nilai dan norma sosial seringkali menjadi penyebab timbulnya konflik sosial.Sebenarnya peristiwa tersebut tidak akan terjadi jika masing-masing pihak saling menghargai perbedaan yang ada.dan sebagai masyarakat yang ber-Bhinneka Tunggal Ika kita perlu bersikap toleran terhadap perbedaan nilai-nilai dan norma-norma sosial.
7 . Perbedaan nilai-nilai kebudayaan
Perbedaan kebudayaan dapat mendorong timbulnya persaingan dan konflk sosial.demikian pula dengan masuknya kebudayaan masyarakat luar yang negatif,seringkali menjadi penyebab timbulnya konflik sosial.
8. Perbedaan status dan peran sosial
Perbedaan tersebut dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial.Conthnya:adanya perbedaan si kaya dan si miskin,buruh dan majikan,dll
Perhatikan bagan peran dan status sosial dalam kaitan dengan interaksi sosial!
9. Pengaruh perubahan unsur- unsur kebudayaan
Pengaruh budaya luar,juga seringkali menyebabkan terjadinya konflik sosial.jadi kita semua harus bisa menyikapi pengaruh yang dapat menyebabkan konflik sosial.
2. Tuliskan Jenis-Jenis Masalah dan
Jelaskan Pengertiannya ?
Jawabannya
:
· Pengertian dan Jenis Masalah
Masalah adalah kata yang sering kita dengar dikehidupan
sehari-hari, tak ada seorangpun yang tak luput dari masalah baik masalah yang
sifatnya ringan ataupun masalah yang sifatnya berat. Masalah adalah suatu
kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan
kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik.
· Jenis
masalah
1. Masalah sederhana (simple problem)
- Ciri : berskala kecil, berdiri
sendiri (kurang memiliki sangkut paut dengan masalah lain), tidak langsung
konsekuensi yang besar, serta pemecahannya tidak memerlukan pemikiran luas
dan mendalam. Biasanya merupakan pemecahan masalah yang dilakukan secara
individual.
- Scope : pemecahan masalah
dilakukan secara individual.
- Teknik yang bisa digunakan
dilakukan atas dasar intuisi, pengalaman, kebiasaan dan wewenang yang
melekat pada jabatannya.
2. Masalah rumit (complex problem)
- Ciri :berskala besar, tidak
berdiri sendiri (memiliki kaitan erat dengan masalah lain), mengandung
konsekuensi yang besar, serta pemecahannya memerlukan pemikiran yang tajam
dan analitis.
- Scope : Pemecahan masalahnya
dilakukan secara kelompok yang melibatkan pimpinan dan segenap staf
pembantunya.
Dalam masalah rumit (complex problem) terdapat dua
jenis masalah, yakni masalah terstruktur (structured problem) dan
masalah yang tidak terstruktur. (unstructured problem). Masalah yang
terstruktur adalah masalah yang jelas faktor penyebabnya, bersifat rutin dan
biasanya timbul berulang kali sehingga pemecahannya dapat dilakukandengan
teknik pengambilan keputusanyang bersifat rutin, repetitif dan dibakukan.
Masalah yang tidak terstruktur adalah penyimpangan dari masalah organisasi yang
bersifat umum, tidak rutin, tidak jelas faktor penyebab dan konsekuensinya,
serta tidak repetitif kasusunya.
3. Masalah yang diciptakan (problem to be
created), yaitu menetapkan target kinerja yang meningkat secara
terus-menerus, kemudian berusaha untuk menyelesaikannya melalui upaya giat
terus-menerus. Masalah yang diciptakan ini sering disebut masalah
potensial (potential problems) yang baru akan menjadi masalah
aktual (actual problems) di masa yang akan datang. Upaya
menyelesaikan masalah ini adalah melalui inovasi kreatif (peningkatan radikal
dramatik) terus- menerus. Program Lean Six Sigma yang sangat popular sekarang
ini merupakan program inovatif untuk solusi masalah yang diciptakan ini.
4. Masalah yang dirasakan (problems to be perceived),
yang berkaitan dengan upaya peningkatan secara bertahap terus-menerus yang
bertujuan memperkuat posisi yang sekarang. Penerapan Kaizen dalam organisasi
merupakan contoh solusi masalah yang dirasakan ini.
5. Masalah yang telah
terjadi (problems already occurred), yang berkaitan dengan
target-target masa lalu yang tidak tercapai atau deviasi dari standar-standar
yang ditetapkan.
3.
Tuliskan
Proses-Proses dalam Pengambilan Keputusan ?
Jawabannya :
·
Proses-Proses
dalam Pengambilan Keputusan
Proses
Pembuatan Keputusan dalam Manajemen. Proses pembuatan keputasan sampai dengan
pengambilan keputusan itu sangat penting bagi seorang manager yang merupakan
pimpinan dalam suatu perusahan maupun dalam suatu organisasi. Berikut beberapa
proses pembuatan keputusan antara lain :
1. Pemahaman dan perumusan masalah
Manajer harus menemukan masalah apa yang sebenarnya, dan menentukan
bagian-bagian mana yang harus dipecahkan dan bagian mana yang seharusnya
dipecahkan.
2. Pengumpulan dan analisa data yang relevan
Setelah masalahnya ditemukan, lalu ditentukan dan dibuatkan rumusannya untuk
membuat keputusan yang tepat.
3. Pengembangan alternatif Pengembangan
alternatif memungkinkan menolak kecendrungan membuat keputusan yang cepat agar
tercapai keputusan yang efektif.
4. Pengevaluasian terhadap
alternatif yang dipergunakan Menilai efektivitas dari alternatif yang dipakai,
yang diukur dengan menghubungkan tujuan dan sumber daya organisasi dengan
alternatif yang realistik serta menilai seberapa baik alternatif yang diambil
dapat membantu pemecahan masalah.
5. Pemilihan alternatif terbaik
Didasarkan pada informasi yang diberikan kepada manajer dan ketidaksempurnaan
kebijaksanaan yang diambil oleh manajer.
6. Implementasi keputusan Manajer harus
menetapkan anggaran, mengadakan dan meng alokasikan sumber daya yang
diperlukan, serta menugaskan wewenag dan tanggung jawab pelaksana tugas, dengan
mempewrhatikan resiko dan ketidakpastian terhadap keputusan yang diambil.
7. evaluasi atas hasil keputusan Implementasi
yang telah diambil harus selalu dimonitor terus-menerus, apakah berjalan lancar
dan memberikan hasil yang diharapkan.
·
Pengambilan Keputusan
Yang dimaksud dengan keputusan
(decision) adalah berarti pilihan (choice), yaitu pilihan dari dua atau lebih
kemungkinan. Walaupun keputusan biasa dikatakan sama dengan pilihan, ada
perbedaan penting diantara keduanya. Mc Kenzei melihat bahwa keputusan adalah
pilihan nyata karena pilihan diartikan sebagai pilihan tentang tujuan termasuk
pilihan tentang cara untuk mencapai tujuan itu, apakah pada tingkat perorangan
atau kolektif. Mc Grew dan Wilson lebih melihat pada kaitannya dengan proses,
yaitu bahwa suatu keputusan ialah akhir dari suatu proses yang lebih dinamis,
yang diberi label pengambilan keputusan. Dipandang sebagai proses karena terdiri
atas satu seri aktifitas yang berkaitan dan tidak hanya dianggap sebagai
tindakan bijaksana.
Morgan dan Cerullo
mendefinisikan keputusan sebagai sebuah kesimpulan yang dicapai sesudah
dilakukan pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih sementara
yang lain dikesampingkan.
Pengambilan keputusan adalah
proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien
sesuai situasi. Proses tersebut untuk menemukan dan menyelesaikan masalah
organisasi. Suatu aturan kunci dalam pengambilan keputusan ialah sekali
kerangka yang tepat sudah diselesaikan, keputusan harus dibuat
(Brinckloe,1977). Dengan kata lain, keputusan mempercepat diambilnya tindakan,
mendorong lahirnya gerakan dan perubahan (Hill,1979).
Pengambilan keputusan hendaknya
dipahami dalam dua pengertian yaitu (1) penetapan tujuan yang merupakan
terjemahan cita-cita, aspirasi dan (2) pencapaian tujuan melalui
implementasinya (Inbar,1979). Ringkasnya keputusan dibuat untuk mencapai tujuan
melalui pelaksanaan dan ini semua berintikan pada hubungan kemanusiaan. Untuk
suksesnya pengambilan keputusan itu maka sepuluh hukum hubungan kemanusiaan
(Siagian,1988) hendaknya menjadi acuan dari setiap pengambilan keputusan.
1. Pendekatan yang interdisipliner.
Proses pengambilan keputusan
tidak bisa dilihat sebagai suatu tindakan tunggal dan tidak sebagai suatu
tindakan yang Seragam yang berlaku untuk semua keadaan serta dapat digunakan
oleh pengambil keputusan yang berbeda dengan tingkat efektifitas yang sama. Proses
pengambilan keputusan terdiri dari berbagai ragam keterampilan dan pengetahuan
yang diperoleh dari pengalaman dalam kehidupan berorganisasi.
2. Proses yang sistematis.
Suatu proses logis yang
melibatkan pengambilan langkah-langkah secara berturut atau sekuensial dengan
merinci proses tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (pendekatan
atomik). Pendapat lain mengatakan proses pengambilan keputusan menyangkut
dengan naluri, daya pikir, dan serangkaian metode intuitif yang keseluruhannya
dirangkum yang menjadi suatu kreatifitas (pendekatan holistik).
3.
Proses berdasarkan informasi.
Pengambilan keputusan tanpa
informasi berarti menghilangkan kesempatan belajar secara adaptif. Seorang
manajer harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang Informatika untuk
pengambilan keputusan yang efektif serta harus menuntut agar tersedia baginya
informasi yang memenuhi persyaratan kemutakhiran, kelengkapan, dapat dipercaya
dan disajikan dalam bentuk yang tepat.
4.
Memperhitungkan faktor-faktor
ketidakpastian.
Betapa pun telitinya perkiraan
keadaan, dalamnya kajian terhadap berbagai alternatif, tetap tidak ada jaminan
bebas dari resiko ketidakpastian. Untuk itu pengambilan keputusan harus dapat
Memperhitungkan probabilitas (kemungkinan) keberhasilan atau kekurang-berhasilan
pelaksanaan suatu keputusan.
5.
Diarahkan pada tindakan nyata.
Mengambil suatu tindakan harus
dapat ditentukan secara pasti, kapan pemecahan berakhir dan proses pengambilan
keputusan dimulai. Masalah dan sasaran sering mempunyai siklus pertumbuhan dan
penyusutan, demikian juga faktor-faktor yang mempengaruhi. Hal tersebut harus
dikenali secara tepat karena akan sangat mempengaruhi keputusan untuk bertindak
atau tidak bertindak.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar