Kamis, 23 Mei 2013

Manajemen Pendidikan


NAMA    : CORRIE YUIANA LUBIS
NPM       : 12.06.0.029
TUGAS   : MANAJEMEN PENDIDIKAN
PRODI     : PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS

1.     Faktor Penyebab Konflik apa saja ?
Jawabannya :
·       Konflik  terjadi karena :

1.     Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan.
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur.
2.     Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda.
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
3.     Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok.
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang.
Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka.
4.     Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat.
Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada.
5.     Perbedaan kepentingan dan pandangan hidup

Perbedaan seringkali menjadi pemicu timbulnya persaingan dan pertentangan sosial.Oleh karna itu,dalam pergaulan di masyarakat kita harus bersikap toleran terhadap orang atau kelompok lain. Dengan demikian,hubungan baik dengan sesama teman dan saudara akan tetap terpelihara dan konflik sosial dapat dihindari.

6 . Perbedaan nilai dan norma sosial

Perbedaan nilai dan norma sosial seringkali menjadi penyebab timbulnya konflik sosial.Sebenarnya peristiwa tersebut tidak akan terjadi jika masing-masing pihak saling menghargai perbedaan yang ada.dan sebagai masyarakat yang ber-Bhinneka Tunggal Ika kita perlu bersikap toleran terhadap perbedaan nilai-nilai dan norma-norma sosial.

7 . Perbedaan nilai-nilai kebudayaan

Perbedaan kebudayaan dapat mendorong timbulnya persaingan dan konflk sosial.demikian pula dengan masuknya kebudayaan masyarakat luar yang negatif,seringkali menjadi penyebab timbulnya konflik sosial.

8. Perbedaan status dan peran sosial

Perbedaan tersebut dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial.Conthnya:adanya perbedaan si kaya dan si miskin,buruh dan majikan,dll

Perhatikan bagan peran dan status sosial dalam kaitan dengan interaksi sosial! 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjzJc9nyDcrNY1hE-b0HdAU8rpsUPyOkWWS7u5lqOgKqkt2PrV_EixTc-LozZhA10mONf78vHlM5DtQ_J30aCMlwrRoL3BlOpeEQhHenDOYaHQR-fvtF4-EsJuB6-dYqm0BUaniJF7vV5op/s1600/interaksi+sosial+%28zonangelmu.blogspot.com%29.jpg


9. Pengaruh perubahan unsur- unsur kebudayaan

Pengaruh budaya luar,juga seringkali menyebabkan terjadinya konflik sosial.jadi kita semua harus bisa menyikapi pengaruh yang dapat menyebabkan konflik sosial.

2.     Tuliskan Jenis-Jenis Masalah dan Jelaskan Pengertiannya ?

Jawabannya :

·       Pengertian dan Jenis Masalah


Masalah adalah kata yang sering kita dengar dikehidupan sehari-hari, tak ada seorangpun yang tak luput dari masalah baik masalah yang sifatnya ringan ataupun masalah yang sifatnya berat. Masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik.

·       Jenis masalah


1. Masalah sederhana (simple problem)
  • Ciri : berskala kecil, berdiri sendiri (kurang memiliki sangkut paut dengan masalah lain), tidak langsung konsekuensi yang besar, serta pemecahannya tidak memerlukan pemikiran luas dan mendalam. Biasanya merupakan pemecahan masalah yang dilakukan secara individual.
  • Scope : pemecahan masalah dilakukan secara individual.
  • Teknik yang bisa digunakan dilakukan atas dasar intuisi, pengalaman, kebiasaan dan wewenang yang melekat pada jabatannya.

2. Masalah rumit (complex problem)
  • Ciri :berskala besar, tidak berdiri sendiri (memiliki kaitan erat dengan masalah lain), mengandung konsekuensi yang besar, serta pemecahannya memerlukan pemikiran yang tajam dan analitis.
  • Scope : Pemecahan masalahnya dilakukan secara kelompok yang melibatkan pimpinan dan segenap staf pembantunya.
Dalam masalah rumit (complex problem) terdapat dua jenis masalah, yakni masalah terstruktur (structured problem) dan masalah yang tidak terstruktur. (unstructured problem). Masalah yang terstruktur adalah masalah yang jelas faktor penyebabnya, bersifat rutin dan biasanya timbul berulang kali sehingga pemecahannya dapat dilakukandengan teknik pengambilan keputusanyang bersifat rutin, repetitif dan dibakukan. Masalah yang tidak terstruktur adalah penyimpangan dari masalah organisasi yang bersifat umum, tidak rutin, tidak jelas faktor penyebab dan konsekuensinya, serta tidak repetitif kasusunya.

3.   Masalah yang diciptakan (problem to be created), yaitu menetapkan target kinerja yang meningkat secara terus-menerus, kemudian berusaha untuk menyelesaikannya melalui upaya giat terus-menerus. Masalah yang diciptakan ini sering disebut masalah potensial (potential problems) yang baru akan menjadi masalah aktual (actual problems) di masa yang akan datang. Upaya menyelesaikan masalah ini adalah melalui inovasi kreatif (peningkatan radikal dramatik) terus- menerus. Program Lean Six Sigma yang sangat popular sekarang ini merupakan program inovatif untuk solusi masalah yang diciptakan ini.
4.    Masalah yang dirasakan (problems to be perceived), yang berkaitan dengan upaya peningkatan secara bertahap terus-menerus yang bertujuan memperkuat posisi yang sekarang. Penerapan Kaizen dalam organisasi merupakan contoh solusi masalah yang dirasakan ini.
5.   Masalah yang telah terjadi (problems already occurred), yang berkaitan dengan target-target masa lalu yang tidak tercapai atau deviasi dari standar-standar yang ditetapkan.



3.     Tuliskan Proses-Proses dalam Pengambilan Keputusan ?

Jawabannya :

·        Proses-Proses dalam Pengambilan Keputusan

Proses Pembuatan Keputusan dalam Manajemen. Proses pembuatan keputasan sampai dengan pengambilan keputusan itu sangat penting bagi seorang manager yang merupakan pimpinan dalam suatu perusahan maupun dalam suatu organisasi. Berikut beberapa proses pembuatan keputusan antara lain :

1.     Pemahaman dan perumusan masalah Manajer harus menemukan masalah apa yang sebenarnya, dan menentukan bagian-bagian mana yang harus dipecahkan dan bagian mana yang seharusnya dipecahkan.

 2. Pengumpulan dan analisa data yang relevan Setelah masalahnya ditemukan, lalu ditentukan dan dibuatkan rumusannya untuk membuat keputusan yang tepat.

 3. Pengembangan alternatif Pengembangan alternatif memungkinkan menolak kecendrungan membuat keputusan yang cepat agar tercapai keputusan yang efektif.

4. Pengevaluasian terhadap alternatif yang dipergunakan Menilai efektivitas dari alternatif yang dipakai, yang diukur dengan menghubungkan tujuan dan sumber daya organisasi dengan alternatif yang realistik serta menilai seberapa baik alternatif yang diambil dapat membantu pemecahan masalah.

5. Pemilihan alternatif terbaik Didasarkan pada informasi yang diberikan kepada manajer dan ketidaksempurnaan kebijaksanaan yang diambil oleh manajer.

 6. Implementasi keputusan Manajer harus menetapkan anggaran, mengadakan dan meng alokasikan sumber daya yang diperlukan, serta menugaskan wewenag dan tanggung jawab pelaksana tugas, dengan mempewrhatikan resiko dan ketidakpastian terhadap keputusan yang diambil.

 7. evaluasi atas hasil keputusan Implementasi yang telah diambil harus selalu dimonitor terus-menerus, apakah berjalan lancar dan memberikan hasil yang diharapkan.

·        Pengambilan Keputusan

Yang dimaksud dengan keputusan (decision) adalah berarti pilihan (choice), yaitu pilihan dari dua atau lebih kemungkinan. Walaupun keputusan biasa dikatakan sama dengan pilihan, ada perbedaan penting diantara keduanya. Mc Kenzei melihat bahwa keputusan adalah pilihan nyata karena pilihan diartikan sebagai pilihan tentang tujuan termasuk pilihan tentang cara untuk mencapai tujuan itu, apakah pada tingkat perorangan atau kolektif. Mc Grew dan Wilson lebih melihat pada kaitannya dengan proses, yaitu bahwa suatu keputusan ialah akhir dari suatu proses yang lebih dinamis, yang diberi label pengambilan keputusan. Dipandang sebagai proses karena terdiri atas satu seri aktifitas yang berkaitan dan tidak hanya dianggap sebagai tindakan bijaksana.
Morgan dan Cerullo mendefinisikan keputusan sebagai sebuah kesimpulan yang dicapai sesudah dilakukan pertimbangan, yang terjadi setelah satu kemungkinan dipilih sementara yang lain dikesampingkan.
Pengambilan keputusan adalah proses memilih suatu alternatif cara bertindak dengan metode yang efisien sesuai situasi. Proses tersebut untuk menemukan dan menyelesaikan masalah organisasi. Suatu aturan kunci dalam pengambilan keputusan ialah sekali kerangka yang tepat sudah diselesaikan, keputusan harus dibuat (Brinckloe,1977). Dengan kata lain, keputusan mempercepat diambilnya tindakan, mendorong lahirnya gerakan dan perubahan (Hill,1979).
Pengambilan keputusan hendaknya dipahami dalam dua pengertian yaitu (1) penetapan tujuan yang merupakan terjemahan cita-cita, aspirasi dan (2) pencapaian tujuan melalui implementasinya (Inbar,1979). Ringkasnya keputusan dibuat untuk mencapai tujuan melalui pelaksanaan dan ini semua berintikan pada hubungan kemanusiaan. Untuk suksesnya pengambilan keputusan itu maka sepuluh hukum hubungan kemanusiaan (Siagian,1988) hendaknya menjadi acuan dari setiap pengambilan keputusan.
1. Pendekatan yang interdisipliner.
Proses pengambilan keputusan tidak bisa dilihat sebagai suatu tindakan tunggal dan tidak sebagai suatu tindakan yang Seragam yang berlaku untuk semua keadaan serta dapat digunakan oleh pengambil keputusan yang berbeda dengan tingkat efektifitas yang sama. Proses pengambilan keputusan terdiri dari berbagai ragam keterampilan dan pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman dalam kehidupan berorganisasi.
2. Proses yang sistematis.
Suatu proses logis yang melibatkan pengambilan langkah-langkah secara berturut atau sekuensial dengan merinci proses tersebut menjadi bagian-bagian yang lebih kecil (pendekatan atomik). Pendapat lain mengatakan proses pengambilan keputusan menyangkut dengan naluri, daya pikir, dan serangkaian metode intuitif yang keseluruhannya dirangkum yang menjadi suatu kreatifitas (pendekatan holistik).
3.     Proses berdasarkan informasi.
Pengambilan keputusan tanpa informasi berarti menghilangkan kesempatan belajar secara adaptif. Seorang manajer harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang Informatika untuk pengambilan keputusan yang efektif serta harus menuntut agar tersedia baginya informasi yang memenuhi persyaratan kemutakhiran, kelengkapan, dapat dipercaya dan disajikan dalam bentuk yang tepat.
4.     Memperhitungkan faktor-faktor ketidakpastian.
Betapa pun telitinya perkiraan keadaan, dalamnya kajian terhadap berbagai alternatif, tetap tidak ada jaminan bebas dari resiko ketidakpastian. Untuk itu pengambilan keputusan harus dapat Memperhitungkan probabilitas (kemungkinan) keberhasilan atau kekurang-berhasilan pelaksanaan suatu keputusan.

5.     Diarahkan pada tindakan nyata.
Mengambil suatu tindakan harus dapat ditentukan secara pasti, kapan pemecahan berakhir dan proses pengambilan keputusan dimulai. Masalah dan sasaran sering mempunyai siklus pertumbuhan dan penyusutan, demikian juga faktor-faktor yang mempengaruhi. Hal tersebut harus dikenali secara tepat karena akan sangat mempengaruhi keputusan untuk bertindak atau tidak bertindak.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar